
Rupiah Melemah Tembus Rp16.600, Waspada Kenaikan Harga Barang Impor
Jakarta – Nilai tukar Rupiah melemah cukup dalam pada perdagangan hari ini, Senin (15/12/2025). Mata uang Garuda tak berdaya menghadapi keperkasaan Dolar Amerika Serikat (AS) yang terus menekan pasar negara berkembang.
Berdasarkan data pasar spot sore ini, Rupiah ditutup pada level Rp16.667 per Dolar AS. Angka ini menunjukkan tren depresiasi yang signifikan dibandingkan penutupan minggu lalu.
Tren pelemahan ini tentu menjadi sinyal “kuning” bagi perekonomian domestik menjelang tutup tahun. Lantas, apa penyebab utama Rupiah melemah hari ini dan bagaimana dampaknya bagi dompet masyarakat?
Biang Kerok: The Fed dan Sentimen Global
Analis pasar uang menyebutkan bahwa faktor eksternal masih menjadi pemicu utama. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunga tinggi (High for Longer) membuat indeks Dolar AS (DXY) kembali menguat.
Investor global cenderung menarik dananya dari pasar berisiko (emerging market) seperti Indonesia dan memindahkannya kembali ke aset aman dalam bentuk Dolar AS. Akibatnya, pasokan Dolar di dalam negeri menipis, dan Rupiah melemah secara otomatis.
“Tekanan eksternal sangat kuat hari ini. Pasar merespons data tenaga kerja AS yang solid, sehingga harapan pemangkasan suku bunga The Fed semakin kecil,” ujar salah satu analis sekuritas di Jakarta.
Sektor Riil Terpukul: Harga Elektronik hingga Tahu Tempe Terancam
Ketika Rupiah melemah, dampak yang paling nyata dirasakan adalah pada barang-barang impor (imported inflation). Berikut adalah sektor yang paling rentan terdampak:
- Barang Elektronik: Ponsel, laptop, dan komponen elektronik mayoritas dibeli menggunakan Dolar AS. Distributor kemungkinan akan menyesuaikan harga jual jika kurs terus bertahan di atas Rp16.500.
- Pangan (Kedelai & Gandum): Produsen tahu dan tempe kembali menjerit. Mengingat sebagian besar kedelai adalah impor, pelemahan kurs akan menaikkan biaya produksi secara signifikan.
- BBM Non-Subsidi: Harga minyak mentah dunia yang dikonversi ke Rupiah yang lemah akan membuat harga keekonomian BBM melambung.
Langkah Bank Indonesia
Menghadapi situasi Rupiah melemah ini, Bank Indonesia (BI) dipastikan tidak tinggal diam. BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik membeli Dolar (panic buying) yang justru akan memperparah keadaan. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat menahan gejolak eksternal ini, asalkan inflasi tetap terkendali.

